Pengenalan Fotografi
Fotografi
(photography) berasal dari bahasa Yunani, dari kata "photos" (cahaya)
dan "graphien" (menggambar). Fotografi secara umum dapat diartikan
dengan “ menggambar dengan cahaya”. Pencahayaan tidak bisa lepas dari dunia
fotografi. Tanpa cahaya, seorang fotografer tidak akan dapat mengambil gambar
dari proses pemotretan.
Prinsip Kerja Kamera
Prinsip kerja kamera adalah menangkap cahaya. Cahaya masuk ke kamera lewat lensa (Subjek dapat dilihat terlebih dahulu melalui viewfinder), difokuskan agar diterima oleh sensor cahaya yang memilah-milah cahaya berdasarkan komponennya. Informasi mengenai konsentrasi komponen cahaya ini diterjemahkan dan diubah menjadi informasi digital untuk kemudian disimpan dalam media penyimpan.
Cahaya masuk ke dalam kamera melalui bagian yang disebut lensa. Cahaya dipastikan hanya boleh melalui bagian lensa ini yang berupa lubang (berbentuk lingkaran). Lubang ini ibarat jendela kamera ke dunia luar, dan jendela ini punya ukuran lubang tertentu, persis saat kita membuka mata atau menutup mata. Kamera sendiri juga memiliki komponen untuk mengatur kecepatan si lubang ini membuka saat kita perintahkan. Dengan mengatur dua properties ini, intensitas cahaya yang masuk ke kamera dapat diatur.
Lensa juga berfungsi untuk mengatur supaya cahaya secara tajam difokuskan. Fokus adalah saat kita bisa melihat obyek pada visualisasi yang terjelasnya, kebalikan dengan yang disebut blur. Kalau menyangkut cara kerja, fokus adalah saat cahaya yang dilewatkan tepat jatuh ke bidang sensor kamera, seperti setelah cahaya lewat kornea mata kita dan tepat jatuh di retina maka kita bisa fokus melihat suatu obyek.
Macam-macam Kamera
Saat ini kamera dapat dikelompokkan menjadi kamera analog dan kamera digital. Kamera analog mengambil gambar dari cahaya yang ditangkap lensa, kemudian menyimpan hasilnya pada negative film. Pada kamera digital terdapat sensor penangkap gambar CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide) lebih dari jutaan pixel (picture element). Sensor tersebut adalah suatu chip yang terletak tepat dibelakang lensa. Semakin banyak jumlah pixel pada sensor, maka gambar yang dihasilkan akan semakin detail.
Sensor yang banyak dipakai oleh produsen berupa semikonduktor dengan nama CCD (charged-couple device semiconductor) dan CMOS (complementary metal-oxide semiconductor). Kualitas maupun ukuran dari sensor ini salah satu dari faktor penting yang mempengaruhi kualitas dari gambar yang akan dihasilkan. Media penyimpanan data digital gambar pada kamera digital terpisah dengan media penangkap cahaya. Media penyimpanannya biasa disebut memori memiliki berbagai macam jenis bergantung dari produsen pembuat kamera. Media penyimpan yang umum digunakan adalah tipe-tipe Compact Flash(CF), Secure Digital(SD), Multi Media Card (MMC), Memory Stick (MS) dan (XD).
Saat ini telah banyak beredar kamera digital dari banyak produsen kamera, dengan kemampuan baik dari jumlah pixel, kapasitas memori, dan fitur-fitur tambahan lainnya. Secara umum kamera dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:
1 Kamera Pocket
Kamera pocket disebut juga kamera saku, karena bentuknya yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana serta sangat praktis dan mudah menggunakannya karena tidak perlu menyetel apa-apa dan yang penting adalah fotonya pasti jadi karena semuanya sudah diatur oleh kamera. Jadi dalam hal ini sang fotografer nggak perlu ikut campur masalah teknis kamera, pokoknya bidik dan jepret (point and shoot). Namun pada saat ini kamera pocket telah cukup berkembang dengan berbagai macam fasilitas seperti lensa zoom.
2. Kamera SLR
Kamera SLR (Single Lens Reflex atau Cermin Lensa Tunggal), disebut SLR karena cara kerja kamera ini karena pembidikannya dipantulkan melalui prisma dan cermin lalu diteruskan pada lensa utama sehingga tidak terjadi efek paralax (perbedaan bidikan dan hasil gambar yang ditangkap kamera) seperti yang terjadi pada kamera jenis range finder. Dengan kamera jenis ini, fotografer harus menentukan kecepatan shutter speed (Kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) serta fokus, maka disini fotografer adalah si penentu kualitas foto, apakah jadi kabur nggak karuan atau lebih indah dari aslinya. Dengan kamera SLR sang fotografer dapat berkreasi sebebas-bebasnya dengan membuat efek-efek tertentu dengan cara membuat kombinasi yang berbeda antara shutter speed dan aperture, selain itu kamera SLR sangat banyak asesorisnya seperti berbagai jenis lensa, filter dll. Dengan berkembangnya teknologi dibidang fotografi, maka saat ini kamera SLR juga memliliki kemampuan yang serba otomatis yang menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan, seperti fokus otomatis, kecepatan rana otomatis, dan bukaan diafragma otomatis, Namun selain dapat disetel otomatis kamera tersebut dapat disetel manual. Kamera jenis SLR paling banyak digunakan oleh amatir maupun profesional, selain karena kemampuannya, menggunakan kamera jenis ini menurut mereka lebih menantang (mungkin maksudnya lebih ruwet karena harus nyetel ini itu.
3 Kamera Range Finder
Disebut demikian karena pembidikannya secara langsung tanpa melalui lensa utama (sama dengan kamera pocket) beberapa fasilitasnya mirip dengan kamera SLR, seperti pengaturan diafragma, kecepatan rana, penyetelan fokus serta dapat ditambah asesoris seperti filter dll. Kamera jenis ini sekarang sudah tidak populer lagi.
4. Kamera Medium Format
Kamera ini cara kerjanya mirip dengan SLR namun dengan ukuran film yang digunakan lebih besar yaitu 120 mm, dengan ukuran film tersebut maka pembesaran yang dihasilkan akan lebih baik dari pada menggunakan film 35 mm. Kamera ini biasanya digunakan pada pemotretan Still Life (benda tidak bergerak), model, ataupun untuk keperluan keperluan bisnis seperti iklan dan majalah yang membutuhkan hasil gambar yang besar.
5. Kamera Large Format
Biasa disebut juga View Kamera, kamera jenis ini menggunakan film yang lebih besar, yaitu ukuran 4x5 inci atau 8x10 inci. Jika menginginkan hasil cetak ukuran yang sangat besar dengan kualitas yang sangat bagus biasanya menggunakan kamera ini. Kamera ini biasanya hanya digunakan untuk pemotretan yang lebih khusus seperti foto udara dan foto arsitektur dari jarak dekat tanpa menimbulkan distorsi (minimal).
6. Kamera Instan
Kelebihan dari kamera ini adalah kecepatannya dalam menghasilkan gambar. Dengan kamera ini kita tidak perlu repot-repot melakukan proses cuci cetak film, sebab, beberapa detik setelah selesai pengambilan gambar, maka hasilnya akan langsung jadi. Namun disamping kelebihan yang dimiliki, kamera inipun memiliki kekurangan. Karena Film yang digunakan adalah film instan, yang tentunya tidak memiliki klise, maka hasil pemotretan tidak memungkinkan untuk dicetak ulang.
Prinsip Kerja Kamera
Prinsip kerja kamera adalah menangkap cahaya. Cahaya masuk ke kamera lewat lensa (Subjek dapat dilihat terlebih dahulu melalui viewfinder), difokuskan agar diterima oleh sensor cahaya yang memilah-milah cahaya berdasarkan komponennya. Informasi mengenai konsentrasi komponen cahaya ini diterjemahkan dan diubah menjadi informasi digital untuk kemudian disimpan dalam media penyimpan.
Cahaya masuk ke dalam kamera melalui bagian yang disebut lensa. Cahaya dipastikan hanya boleh melalui bagian lensa ini yang berupa lubang (berbentuk lingkaran). Lubang ini ibarat jendela kamera ke dunia luar, dan jendela ini punya ukuran lubang tertentu, persis saat kita membuka mata atau menutup mata. Kamera sendiri juga memiliki komponen untuk mengatur kecepatan si lubang ini membuka saat kita perintahkan. Dengan mengatur dua properties ini, intensitas cahaya yang masuk ke kamera dapat diatur.
Lensa juga berfungsi untuk mengatur supaya cahaya secara tajam difokuskan. Fokus adalah saat kita bisa melihat obyek pada visualisasi yang terjelasnya, kebalikan dengan yang disebut blur. Kalau menyangkut cara kerja, fokus adalah saat cahaya yang dilewatkan tepat jatuh ke bidang sensor kamera, seperti setelah cahaya lewat kornea mata kita dan tepat jatuh di retina maka kita bisa fokus melihat suatu obyek.
Macam-macam Kamera
Saat ini kamera dapat dikelompokkan menjadi kamera analog dan kamera digital. Kamera analog mengambil gambar dari cahaya yang ditangkap lensa, kemudian menyimpan hasilnya pada negative film. Pada kamera digital terdapat sensor penangkap gambar CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide) lebih dari jutaan pixel (picture element). Sensor tersebut adalah suatu chip yang terletak tepat dibelakang lensa. Semakin banyak jumlah pixel pada sensor, maka gambar yang dihasilkan akan semakin detail.
Sensor yang banyak dipakai oleh produsen berupa semikonduktor dengan nama CCD (charged-couple device semiconductor) dan CMOS (complementary metal-oxide semiconductor). Kualitas maupun ukuran dari sensor ini salah satu dari faktor penting yang mempengaruhi kualitas dari gambar yang akan dihasilkan. Media penyimpanan data digital gambar pada kamera digital terpisah dengan media penangkap cahaya. Media penyimpanannya biasa disebut memori memiliki berbagai macam jenis bergantung dari produsen pembuat kamera. Media penyimpan yang umum digunakan adalah tipe-tipe Compact Flash(CF), Secure Digital(SD), Multi Media Card (MMC), Memory Stick (MS) dan (XD).
Saat ini telah banyak beredar kamera digital dari banyak produsen kamera, dengan kemampuan baik dari jumlah pixel, kapasitas memori, dan fitur-fitur tambahan lainnya. Secara umum kamera dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:
1 Kamera Pocket
Kamera pocket disebut juga kamera saku, karena bentuknya yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana serta sangat praktis dan mudah menggunakannya karena tidak perlu menyetel apa-apa dan yang penting adalah fotonya pasti jadi karena semuanya sudah diatur oleh kamera. Jadi dalam hal ini sang fotografer nggak perlu ikut campur masalah teknis kamera, pokoknya bidik dan jepret (point and shoot). Namun pada saat ini kamera pocket telah cukup berkembang dengan berbagai macam fasilitas seperti lensa zoom.
2. Kamera SLR
Kamera SLR (Single Lens Reflex atau Cermin Lensa Tunggal), disebut SLR karena cara kerja kamera ini karena pembidikannya dipantulkan melalui prisma dan cermin lalu diteruskan pada lensa utama sehingga tidak terjadi efek paralax (perbedaan bidikan dan hasil gambar yang ditangkap kamera) seperti yang terjadi pada kamera jenis range finder. Dengan kamera jenis ini, fotografer harus menentukan kecepatan shutter speed (Kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) serta fokus, maka disini fotografer adalah si penentu kualitas foto, apakah jadi kabur nggak karuan atau lebih indah dari aslinya. Dengan kamera SLR sang fotografer dapat berkreasi sebebas-bebasnya dengan membuat efek-efek tertentu dengan cara membuat kombinasi yang berbeda antara shutter speed dan aperture, selain itu kamera SLR sangat banyak asesorisnya seperti berbagai jenis lensa, filter dll. Dengan berkembangnya teknologi dibidang fotografi, maka saat ini kamera SLR juga memliliki kemampuan yang serba otomatis yang menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan, seperti fokus otomatis, kecepatan rana otomatis, dan bukaan diafragma otomatis, Namun selain dapat disetel otomatis kamera tersebut dapat disetel manual. Kamera jenis SLR paling banyak digunakan oleh amatir maupun profesional, selain karena kemampuannya, menggunakan kamera jenis ini menurut mereka lebih menantang (mungkin maksudnya lebih ruwet karena harus nyetel ini itu.
3 Kamera Range Finder
Disebut demikian karena pembidikannya secara langsung tanpa melalui lensa utama (sama dengan kamera pocket) beberapa fasilitasnya mirip dengan kamera SLR, seperti pengaturan diafragma, kecepatan rana, penyetelan fokus serta dapat ditambah asesoris seperti filter dll. Kamera jenis ini sekarang sudah tidak populer lagi.
4. Kamera Medium Format
Kamera ini cara kerjanya mirip dengan SLR namun dengan ukuran film yang digunakan lebih besar yaitu 120 mm, dengan ukuran film tersebut maka pembesaran yang dihasilkan akan lebih baik dari pada menggunakan film 35 mm. Kamera ini biasanya digunakan pada pemotretan Still Life (benda tidak bergerak), model, ataupun untuk keperluan keperluan bisnis seperti iklan dan majalah yang membutuhkan hasil gambar yang besar.
5. Kamera Large Format
Biasa disebut juga View Kamera, kamera jenis ini menggunakan film yang lebih besar, yaitu ukuran 4x5 inci atau 8x10 inci. Jika menginginkan hasil cetak ukuran yang sangat besar dengan kualitas yang sangat bagus biasanya menggunakan kamera ini. Kamera ini biasanya hanya digunakan untuk pemotretan yang lebih khusus seperti foto udara dan foto arsitektur dari jarak dekat tanpa menimbulkan distorsi (minimal).
6. Kamera Instan
Kelebihan dari kamera ini adalah kecepatannya dalam menghasilkan gambar. Dengan kamera ini kita tidak perlu repot-repot melakukan proses cuci cetak film, sebab, beberapa detik setelah selesai pengambilan gambar, maka hasilnya akan langsung jadi. Namun disamping kelebihan yang dimiliki, kamera inipun memiliki kekurangan. Karena Film yang digunakan adalah film instan, yang tentunya tidak memiliki klise, maka hasil pemotretan tidak memungkinkan untuk dicetak ulang.
Deskripsi Fotografi
Fotografi (dari bahasa
Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu
"photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.)
adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai
istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar
atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai
obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap
cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa
dibuat.Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan
sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar
dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik
dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).Untuk
menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan
bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang
tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan
mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture),
dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma
& Speed disebut sebagai pajanan (exposure).Di era
fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula
digunakan berkembang menjadi Digital ISO.
Sejarah Fotografi
Teknologi fotografi dimulai dengan sebuah kotak penangkap
bayangan gambar, sebuah alat yang mulanya untuk meneliti konstalasi bintang
yang dipatenkan oleh Gemma Fricius pada 1554. Namun sebenarnya, cikal bakal
teknologi ini adalah seorang ahli filsafat Cina bernama Mo Ti pada abad ke-5
SM, Aristoteles pada abad ke-3 SM, dan seorang Arab bernama Ibn Al-Haitham pada
abad ke-10 M. Kemudian pada 1558 ilmuwan Italy Giambattista della Porta
menyebut "camera obscura" pada sebuah kotak kososng yang membantu
pelukis menangkap bayangan gambar.
Lalu pada 1727, Johann Heinrich Schulze menemukan bahwa cairan
tertentu akan berubah warnanya jika diekspos ke sinar. Kemudian pada awal abad
ke-19, Thomas Wegwood melakukan sebuah percobaan. Ia berhasil menangkap citra
sebuah objek. Namun sayangnya citra tersebut tidak bertahan lama karena belum
ditemukannya metode untuk membuat citra menjadi permanen.
Akhirnya pada 1824 foto pertama berhasil dibuat oleh seniman
lithography Prancis Nicéphore Niépce. Niépce membuat foto dengan pelat logam
yang disinari dalam camera obscura selama delapan jam. Merasa kurang puas,
Niépce bekerja sama dengan pelukis asal Prancis Louis-Jacques-Mandé Daguerre
untuk menyempurnakan penelitiannya yang lalu disebut heliografi. Dalam bahasa
Yunani, helios adalah matahari dan graphos berarti menulis.
Namun karena Niépce wafat pada 1833, Daguerre-lah yang
menyelesaikan percobaan tersebut dan menyebut temuannya ini sebagai
Daguerreotype dan ia pun dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat
foto yang sebenarnya.
Padahal beberapa bulan sebelumnya, seorang ilmuan Inggris
bernama William Henry Fox Talbot sudah pula menemukan lukisan fotografi juga
menggunakan camera obscura, tapi ia buat posistifnya pada sehelai kertas
chlorida perak. Kemudian pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film
negatif modern yang terbuat dari lembar kertas beremulsi yang bisa digunakan
untuk mencetak foto dengan cara contact print (print yang dibuat tanpa
pembesaran / pengecilan) juga bisa digunakan untuk cetak ulang layaknya film
negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi
Talbotypes.
Kemudian pada Januari 1850 seorang ahli kimia Inggris bernama
Robert Bingham memperkenalkan penggunaan collodion sebagai emulsi foto, yang
saat itu cukup populer dengan sebutan wet-plate photography. Walaupun cukup
rumit, proses collodion ini banyak digemari fotografer karena dianggap cukup
menjanjikan. Sejak saat itulah fotografi mulai intens melayani kebutuhan pers.
Temuan teknologi makin maju sejalan dengan masuknya fotografi ke
dunia jurnalistik. Karena belum bisa membawa foto ke dalam proses cetak, surat
kabar mula-mula menyalin foto ke dalam gambar tangan. Dan surat kabar pertama
yang memuat gambar sebagai berita adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877.
Gambar berita pertama dalam surat kabar itu adalah sebuah peristiwa kebakaran.
Kemudian, ditemukanlah proses cetak half tone
pada tahun 1880 yang memungkinkan foto dibawa ke dalam surat kabar. Pada Juni
1888, George Eastman, seorang ilmuwan Amerika, menciptakan revolusi fotografi
dunia hasil penelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek Kodak
yang terkenal dengan nama Eastman’s Kodak, yaitu berupa sebuah kamera kotak
kecil dan ringan, yang telah berisi rol film (dengan bahan kimia Perak Bromida)
untuk 100 exposure. Bila seluruh film digunakan, kamera (berisi film) dikirim
ke perusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan
telah berisi rol film yang baru. Berbeda dengan kamera pada masa itu yang besar
dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret
dengan leluasa. Nah, kamera KODAK inilah yang kemudian mengalami berbagai
penyesuaian teknologi sehingga menjadi kamera yang kita gunakan sekarang.
Jenis jenis Fotografi
Jenis jenis Foto
Materi jenis-jenis foto ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa jenis
foto sebagai referensi lebih jauh lagi dan memperdalam pengetahuan dunia
fotografi. Jenis-jenis foto disini hanya sebagai pengelompokan secara garis
besar, yang membantu mempermudah kita dalam memahami sebuah karya fotografi,
dan ini bukan sebagai penggolongan yang paten untuk menghasilkan karya foto.
FOTO MANUSIA
Foto manusia adalah semua foto yang obyek utamanya manusia, baik anak-anak
sampai orang tua, muda maupun tua. Unsur utama dalam foto ini adalah manusia,
yang dapat menawarkan nilai dan daya tarik untuk divisualisasikan. Foto ini
dibagi lagi menjadi beberapa kategori yaitu :
a. Portrait
Portrait adalah foto yang menampilkan ekspresi dan karakter manusia dalam
kesehariannya. Karakter manusia yang berbeda-beda akan menawarkan image
tersendiri dalam membuat foto portrait. Tantangan dalam membuat foto portrait
adalah dapat menangkap ekspresi obyek (mimic, tatapan, kerut wajah) yang mampu
memberikan kesan emosional dan menciptakan karakter seseorang.
b. Human Interest
Human Interest dalam karya fotografi adalah menggambarkan kehidupan manusia
atau interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari serta ekspresi emosional
yang memperlihatkan manusia dengan masalah kehidupannya, yang mana kesemuanya
itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi para orang yang menikmati
foto tersebut.
c. Stage Photography
Stage Photography adalah semua foto yang menampilkan aktivitas/gaya hidup
manusia yang merupakan bagian dari budaya dan dunia entertainment untuk
dieksploitasi dan menjadi bahan yang menarik untuk divisualisasikan.
d. Sport
Foto olahraga adalah jenis foto yang menangkap aksi menarik dan spektakuler
dalam event dan pertandingan olah raga. Jenis foto ini membutuhkan kecermatan
dan kecepatan seorang fotografer dalam menangkap momen terbaik.
FOTO NATURE
Dalam jenis foto nature obyek utamanya adalah benda dan makhluk hidup alami
(natural) seperti hewan, tumbuhan, gunung, hutan dan lain-lain.
a. Foto Flora
Jenis foto dengan obyek utama tanaman dan tumbuhan dikenal dengan jenis
foto flora. Berbagai jenis tumbuhan dengan segala keanekaragamannya menawarkan
nilai keindahan dan daya tarik untuk direkam dengan kamera.
b. Foto Fauna
Foto fauna adalah jenis foto dengan berbagai jenis binatang sebagai obyek
utama. Foto ini menampilkan daya tarik dunia binatang dalam aktifitas dan
interaksinya.
c. Foto Lanskap
Foto lanskap adalah jenis foto yang begitu popular seperti halnya foto
manusia. Foto lanskap merupakan foto bentangan alam yang terdiri dari unsur
langit, daratan dan air, sedangkan manusia, hewan, dan tumbuhan hanya sebagai
unsur pendukung dalam foto ini. Ekspresi alam serta cuaca menjadi moment utama
dalam menilai keberhasilan membuat foto lanskap.
FOTO ARSITEKTUR
Kemanapun anda pergi akan menjumpai bangunan-bangunan dalam berbagai
ukuran, bentuk, warna dan desain. Dalam jenis foto ini menampilkan keindahan
suatu bangunan baik dari segi sejarah, budaya, desain dan konstruksinya.
Memotret suatu bangunan dari berbagai sisi dan menemukan nilai keindahannya
menjadi sangat penting dalam membuat foto ini. Foto arsitektur ini tak lepas
dari hebohnya dunia arsitektur dan teknik sipil sehingga jenis foto ini menjadi
cukup penting peranannya.
FOTO STILL LIFE
Foto still life adalah menciptakan sebuah gambar dari
benda atau obyek mati. Membuat gambar dari benda mati menjadi hal yang menarik
dan tampak “hidup”, komunikatif, ekspresif dan mengandung pesan yang akan
disampaikan merupakan bagian yang paling penting dalam penciptaan karya foto
ini. Foto still life bukan sekadar menyalin atau memindahkan
objek ke dalam film dengan cara seadanya, karena bila seperti itu yang
dilakukan, namanya adalah mendokumentasikan. Jenis foto ini merupakan jenis
foto yang menantang dalam menguji kreatifitas, imajinasi, dan kemampuan teknis.
FOTO JURNALISTIK
Foto jurnalistik adalah foto yang digunakan untuk kepentingan pers atau
kepentingan informasi. Dalam penyampaian pesannya, harus terdapat caption
(tulisan yang menerangkan isi foto) sebagai bagian dari penyajian jenis foto
ini. Jenis foto ini sering kita jumpai dalam media massa (Koran, majalah,
bulletin, dll).
TEKNIK DASAR PEMOTRETAN
Setelah kita mengenal jenis-jenis foto, sekarang saatnya untuk mengetahui
bagaimana cara memotrer untuk menghasilkan sebuah karya foto. Seorang
fotografer pada awalnya harus menguasai kamera dan bagaimana cara kerja kamera
tersebut.
Focusing
Istilah focusing dalam fotografi adalah proses penajaman
imaji pada bidang tertentu suatu obyek pemotretan. Focusing adalah
teknik paling dasar tetapi begitu penting, karena untuk mendapatkan gambar yang
tajam dan jelas kita harus melakukan focusing secara tepat.
Pemilihan bidang atau titik tertentu dalam suatu obyek foto akan menentukan
kesan “kedalaman” pada sebuah foto. Obyek yang akan kita hadapi dalam
pemotretan tidak hanya sekedar benda diam saja, tetapi kita juga akan
dihadapkan pada benda bergerak (misalnya foto olahraga), hal ini akan
berpengaruh pada tingkat kesulitan dalam focusing. Untuk tahap
pembelajaran, lakukanlah focusing pada benda diam dahulu
hingga kita memahami tehnik focusing dengan tepat.
Pengaturan Speed
Proses pembakaran negatif di dalam kamera untuk mendapatkan imaji tertentu
dipengaruhi oleh cara kerja dan kecepatan rana kamera. Kita bisa menentukan
kecepatan rana saat pembakaran dengan pengaturan speed. Semakin tinggi speed (high
speed) yang kita pakai maka akan semakin cepat pula rana bekerja dan
sebaliknya, semakin rendah speed (low speed) yang kita pakai maka akan
semakin lambat pula rana bekerja. Dalam dunia fotografi terdapat istilah
pencahayaan normal (normal eksposure), pencahayaan rendah (under
eksposure) dan pencahayaan tinggi (over
eksposure). Pencahayaan normal adalah dimana kita menentukan speed dan
diafragma yang tepat untuk mendapatkan gambar seperti pada keadaan obyek foto
yang sebenarnya. Over eksposure(pencahayaan tinggi) adalah
kompensasi pada pengaturan speed untuk mendapatkan intensitas pencahayaan yang
lebih banyak daripada pencahayaan normal dan gambar yang dihasilkan pun lebih
terang daripada kondisi aslinya. Under eksposure (pencahayaan
rendah) adalah kompensasi pencahayaan pada pengaturan speed untuk mengurangi
intensitas cahaya dibawah pencahayaan normal. Under eksposure sering
digunakan ketika kondisi cahaya dalam pemotretan terlalu keras sehingga pengkompensasian
akan diperlukan untuk mendapatkan gambar yang lebih maksimal.
Pengaturan Diafragma
Sebuah foto yang menarik adalah dimana foto tersebut terdapat dimensi ruang
atau kesan kedalaman. Fasilitas diafragma pada lensa kamera berperan penting
dalam mengatur pemisahan antara bidang background dan obyek utama. Diafragma
juga menetukan seberapa luas ruang tajam pada foto. Semakin kecil bukaan
diafragma semakin luas ruang tajam yang bisa kita dapatkan dan semakin besar
bukaan diafragma maka semakin sempit ruang tajam dalam foto.
RESEP KREATIF PEMOTRETAN
1. Zooming
Zooming adalah kreatif pemotretan dengan memanfaatkan fasilitas ring zoom
pada lensa kamera. Zoom in adalah membuat gambar obyek tampak lebih mendekat
sedangkan zoom out adalah membuat gambar obyek tampak lebih menjauh. Dalam
pengaturan speed dan penggunaan zoom yang tepat akan memberikan efek motion
(gerak) pada hasil foto.
Bahan-bahan :
a. Kamera
b. Tripod (jika diperlukan)
c. Filter Radial Zoom (jika diperlukan)
Cara membuat :
a. Memotret zooming, membutuhkan speed
yang lambat, jadi pastikan speed pada kamera anda dalam setting speed lambat,
pastikan objek dalam keadaan fokus
b. Setelah speed ditentukan, maka lanjutkan
dengan mengatur diafragma menyesuaikan speed agar mendapat pencahayaan yang
normal
c. Setelah mendapat normal, jepret
shutter bersamaan dengan memutar ring zoom, jika ring zoom diputar dari jauh ke
dekat maka disebut zoom in, jika ring zoom diputar dari dekat ke jauh disebut
zoom out
d. Jika kesulitan dengan speed lambat, anda
bisa menggunakan tripod atau filter radial zoom.
2. Panning
Panning adalah teknik kreatif pemotretan untuk mendapatkan efek gerak pada
obyek yang bergerak (balap motor, orang berlari, dll). Hasil dari teknik panning
adalah adanya efek motion (gerak) pada latar belakang (background).
Bahan-bahan :
a. Kamera
b. Tripod (jika diperlukan)
Cara membuat :
a. Sama seperti memotret zooming,
motret panning membutuhkan speed yang lambat agar menghasilkan efek gerak. Jadi
pastikan kamera anda dalam setting speed lambat
b. Kemudian lanjutkan dengan mengatur
diafragma agar mendapat pencahayaan yang normal
c. Pencet shutter bersamaan dengan
mengubah arah kamera mengikuti gerak objek
d. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal,
pastikan memencet shutter pada saat objek berada tepat di tengah kamera
e. Jika anda kesulitan dengan speed
lambat, pergunakan tripod.
3. Double/Multi Ekspose
Adalah teknik pemotretan dengan mengkombinasikan beberapa perekaman
imaji/gambar dalam satu bingkai frame. Teknik ini membutuhkan penuangan
kreatifitas, ide, konsep dan pemahaman komposisi serta pencahayaan.
Bahan-bahan :
a. Kamera
b. Filter Multi Ekspose (jika
diperlukan)
Cara membuat :
a. Memotret multi ekspose membutuhkan
ide, konsep, dan kreativitas. Jadi pastikan anda sudah mempunyai ide
b. Jika anda sudah mempunyai ide, pastikan
objek yang akan anda potret dalam keadaan pencahayaan normal (atur terlebih
dahulu speed dan diafragmanya)
c. Jika pencahayaan sudah normal,
pencet tombol shutter. Objek 1 sudah anda dapatkan
d. Untuk mendapatkan objek ke-2, 3, dst.,
ulangi urutan di atas. Akan tetapi sebelum memutar kokang, putar tombol multi
ekspose kemudian baru di kokang, kemudian pencet shutter dan begitu seterusnya
e. Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal, pastikan anda sudah memikirkan porsi untuk objek 1, 2, 3, dst dalam
satu frame
f. Jika anda kesulitan, anda bisa
menggunakan filter multi ekspose.
4. Bulb
Bulb adalah proses pemotretan dengan memanfaatkan fasilitas bulb pada
kamera. Fasilitas bulb pada kamera memberikan keleluasaan dalam menentukan
berapa lama rana terbuka untuk proses pembakaran. Bila kita memotret pada
kondisi cahaya yang minim atau sangat kurang (pada malam hari), dan prioritas
speed tidak mampu lagi mendapatkan pencahayaan normal maka fasilitas bulb pada
kamera akan sangat membantu. Untuk menghindari goncangan (shaking), alat bantu
tripod dan kabel release sangat dibutuhkan.
Bahan-bahan :
a. Kamera
b. Tripod
c. Kabel Release
Cara membuat :
a. Pastikan kamera anda dalam setting
speed bulb
b. Untuk diafragma, terserah pada fotografer.
Jika bukaan diafragma lebar maka efek dari sumber cahaya akan bulat. Jika
bukaan diafragma sempit maka efek dari sumber cahaya akan berbentuk bintang
c. Untuk lamanya rana membuka (speed),
fotografer dapat menentukan sendiri waktunya
d. Untuk menghindari goncangan pada kamera,
lebih baik menggunakan tripod atau kabel release.
5. Siluet
Siluet adalah teknik pemotretan untuk menampilkan gambar obyek dalam
keadaan gelap. Teknik ini memanfaatkan arah sumber cahaya yang berasal dari
balik obyek yang akan kita potret. Teknik ini membutuhkan ketepatan pencahayaan
agar obyek yang kita rekam tetap tampil dengan kontur dan ketajaman yang tepat.
Bahan-bahan :
a. Kamera
Cara membuat :
a. Teknik siluet ini memanfaatkan
sumber cahaya yang datang dari balik objek sehingga pengukuran speed dan
diafragma terletak pada sumber cahaya tersebut
b. Karena kita mengukur pencahayaan normal
pada sumber cahaya yang ada dibalik objek, maka efeknya objek yang ada
didepannya akan lebih gelap.
6. Makro
Makro adalah kreatif dalam pemotretan dengan menggunakan lensa makro untuk
mendapatkan gambar obyek yang sangat dekat sekali. Foto makro juga digunakan
untuk mendapatkan detail dan tekstur pada obyek yang kita potret. Dalam
pemotretan makro, ruang tajam akan menjadi sempit sekali oleh karena itu
dibutuhkan ketepatan pancahayaan dan focusing. Ketika tidak ada lensa makro
untuk melakukan pemotretan ini kita bisa menyiasatinya dengan membalik lensa
normal untuk pemotreta makro.
Bahan-bahan :
a. Kamera
b. Lensa Makro (jika punya)
c. Filter Close Up
Cara membuat :
a. Jika anda mempunyi lensa makro, maka
memotret makro dapat dilakukan seperti pemotretan pada umumnya
b. Jika anda tidak mempunyai lensa makro,
anda bisa menyiasati dengan cara membalik lensa normal
c. Jika anda masih kesulitan, pakailah
filter close up
7. Framming
Framming adalah kreatif pemotretan dengan memanfaatkan unsur lain pada
obyek yang kita potret sehingga membentuk kesan frame/bingkai tersendiri untuk
menambah nilai keunikan dan menarik serta memperkuat kesan foto secara visual.
8. Strobis
Strobist adalah teknik pemakaian flash secara external, jadi tidak
digunakan diatas hotshoe kamera, melainkan dengan bantuan trigger, atau Flash
yang bisa digunakan sebagai master. Alat wireless trigger ini umumnya
menggunakan gelombang radio atau sinar infra merah untuk menyalakan flash slave
(flash lain harus mengikuti pada flash utama). Keuntungan dengan menggunakan
teknik ini kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk
mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan.